Selasa, 20 September 2016

MAKALAH EPISTIMOLOGI FILSAFAT BARAT KE ISLAM

epistimoloogi filsafat barat ke filsafat Islam

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Segala puji bagi Allah swt tuhan semesta alam yang telah memberikan kita semua kenikmatan dan memberikan kami kelancaran dalam mengerjakan makalah ini, pentingnya berpikir filsafat bagi kita untuk membangun serta mengembangkan bahkan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua, kata membangun sangat erat hubungannya dengan kemampuan meneliti yang dimiliki perangkat pemikir suatu bangsa. Dari pengguna ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari Negara lain kita sekarang harus berusaha menjadi pencipta ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tidak saja kita hanya dapat menjual bahan mentah, tetapi juga bahan jadi dan buah pikiran.
            Filsafat sangatlah penting untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kita, maka dari itu dalam makalah kami membahas tentang dasar pengetahuan, epistimologi, ontologi, sarana berpikir ilmiah.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa sajakah dasar pengetahuan filsafat Ilmu?
2.      Bagaimana epistimologi filsafat ilmu?
3.      Bagaimana ontologi filsafat ilmu?
4.      Bagaimana saran berpikir ilmiah?

C.     Tujuan
1.      Untuk memenuhi tugas kelompok makalah mata kuliah Filsafat Ilmu dan Paradigma.
2.      Untuk mengetahui dasar pengetahuan Filsafat Ilmu.
3.      Untuk mengetahui epistimologi filsafat ilmu.
4.      Untuk mengetahui ontologi filsafat ilmu.
5.      Untuk mengetahui saran berpikir ilmiah.






BAB II
PEMBAHASAN
A.     Dasar-dasar pengetahuan
1.      Penalaran
Menurut Andi Hakim Nasoetion, dalam sebuah ceramahnya di depan layar televisi, sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia jawa. Usaha pelestarian ini dipimpim oleh Mentri PPLH (Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup) yang bukan bernama Email Salim melainkan seekor harimau yang bergelar profesor. “Deangan cakarnya, dengan taringnya, dengan kekuatannya,” demikian kira-kira ujar ilmuwan yang penuh humor ini,” harimau adalh jelas buka tandingan manusia.[1]
Manusia adalah satu satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). Pengetahuan yang dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yaitu: pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikirna yang melatar belakangi informasi tersebut. Kedua, yang dapat membantu menusai mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.
Hakikat Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut orang benar tapi menurut orang lain tidak benar maka sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang itu pun juga berbeda-beda. Sebagai kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Adanya suatu pola pikir yang secara luas disebut logika.
2. Penalaran adalah sifat analitik dari proses berpikirnya.
Disamping itu juga terdapat bentuk lain dalam usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan yakni wahyu. Ditinjau dari hakikat usahanya, maka dalam rangka menemukan kebenaran kita dapat bedakan dua jenis pengetahuan:
1. Pengetahuan yang didapatkan atas hasil usaha yang aktif dari manusia untuk menemukan kebenaran yang, baik melalui penalaran ataupun kegiatan lain seperti perasaan dan intuisi.
2. Pengetahuan yang didapat bukan berupa kesimpulan sebagai produk dari usaha aktif manusia dalam menemukan kebenaran, melainkan berupa pengetahuan yang ditawarkan atau diberikan, umpanya wahyu yang diberikan oleh Tuhan lewat malaikat di berika kepada nabi-nabi.
2.      Logika
Alkisah, menurut cerita yang terdapat dalam khasanah humor ilmiah, seorang peneliti ingin menemukan apa yang sebenarnya membuat seseorang itu mabuk. Untuk itu dia melakukan suatu penelitian dengan mencampur berbagai minuman keras. Mula-mula ia mencampur air dengan wiski luar negri yang setelah ditegukkan maka dia pun terkapar mabuk. Setelah senyuman dia mencampur air dengan TKW, wiski lokal yang diminum di pinggir jalan sambil menghisap kretek, ternyata campuran ini pun menyebabkan ia mabuk. Akhirnya dia mencampur air dengan tuak yang seperti kedua campuran terdahulu dan menyebabkan dia mabuk. Bedasarkan penelitian ini maka dia menyimpulkan bahwa airlah yang menyebabkan manusia mabuk, benar-benar masuk akal bukan, namun hal itu benar?
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilakn penalaran itu mempunyai dasar kebanaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan dilakukan menurut cara tertentu tersebut.cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai ”pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Ada dua cara penarikan kesimpulan:
1.      Logkia induktif
Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum.
2.      Logika Deduktif
Logika deduktif yang membantu kita dalmam menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual(khusus).



3.      Sumber Pengetahuan
De omnibus dubitandum! Segala sesuatu harus diragukan, desak Descartes. Namun segala yang ada dalam hidup ini dimuali dengan meragukan sesuatu, bahkan juga Hamlet si peragu, yang berseru kepada Ophelia.
                        Ragukan bahwa bintang-bintang itu api
                        Ragukan bahwa matahari itu bergerak
                        Ragukan bahwa kebanaran itu dusta
                        Tapi jangan raguka cintaku[2]
Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggap benar. Kenyataan ini membawa kita dalam kebuah pernyataan: bagaimanakah caranya kita mendapatkan pengetahuan yang benar itu? Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, yang pertama adalah mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangakan paham yang disebut dengan empirisme.
Masalah  utama yang timbl dari acara berpikir ini adalah mengenai kriteria untuk mengetahui akan kebanaran dari suatu ide yang menurut seseorang adalah jelas dan dapat dipercaya. Di samping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yanga lain. Yang penting untuk kita ketahui adalah intuisi dan wahyu.Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Wahyu merupakan pengetahuan yang di sampaikan oleh Tuhan kepada manusia.
4.      Kriteria Kebenaran
1.      Seorang anak kecil yang baru masuk sekolah, setelah tiga hari berselang, mogok tidak mau belajar. Orang tuanya mencoba membujuk dia dengan segala macam daya, dari iming-imingan gula-gula sampai ancaman sapu lidi, semuanya sia-sia. Setelah didesak-desak akhirnya dia terus terang, bahwa dia sudah kehilangan hasratnya untuk belajar, sebab ternyata ibu gurunya adalah seorang pembohong.
Coba ceritakan bagaimana dia seorang pembohong,”pinta orang tuanya sambil tersenyum”.
“Tiga hari yang lalu dia berkata bahwa 3 + 4 = 7. Dua hari yang lalu ia berkata 5 + 2 = 7, kemaren dia berkata 6 + 1 = 7. Bukankah semua tidak benar?”
Permasalahan yang sederhana ini membawa kita kepada apa yang disebut teori kebenaran. Apakah persyaratannya agar suatu jalan pikiran menghasilkan kesimpulan yang benar? Tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggap benar, termasuk anak kecil tadi, yang dengan pikiran kanak-kanaknya mempunyai kriteria kebenaran tersendiri. Bagi kita tidak sukar untuk menerima kebenaran bahwa 3 + 4 = 7, 5 + 2 = 7, 6 + 1 = 7, sebsb secara deduktif dapat dibuktikan bahwa ketiga pernyataan tersebut adalah benar. Mengapa hal ini kita sebut benar? Sebab pernyataan dan kesimpulan yang ditariknya adalah knsisten dengan pernyataan dan kesimpulan terdahulu yang telah dianggap benar.
Teori kebenaran yang didasarkan pada kriteria tersebut diatas di sebut teori koherensi.
2.      Paham lain adalah kebenaran yang berdasarkan kepada teori korespondensi, dimana eksponen utamanya adalah Bertrand Russell (1872-1970). Bagi penganut teori korespondensi maka suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang di kandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang di tuju oleh pernyataan tersebut.
3.      Teori pragmatis dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make Our Ideas Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Bagi seorang pragmatis kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.

B.     Epistimologi: cara mendapatkan pengetahuan yang benar
1.      Jarum Sejarah Pengetahuan
Pernahkah anda mendengar tukang obat menawarkan panacea (obat segala macam penyakit) di kaki lima yang berkata, “untuk urat kaku, pegal linu, darah tinggi, sakit bengek, keputihan, sukar tidur, lemah jantan,..... makanlah tablet ini tiga kali sehari, diguyur dengan air minum, yang hamil dilarang makan?” Raja obat yang mampu mengobati segala macam penyakit ini adalah warisan dari zaman dulu, di mana pada waktu itu pembedaan antara ujud satu dengan ujud yang lain, belum dilakukan. Pada masyarakat primitif, pembedaan antara berbagai organisasi kemasyarakatan belum nampak, yang diakibatkan belum adanya pembagian pekerjaan. Seorang ketua suku umpamanya, bisa merangkap hakim, penghulu yang menikahkan, panglima perang, guru besar atau tukang tenun.Sekali kita menenpati status tertentu dalam jenjang kemasyarakatan maka status itu tetap, kemanapun kita pergi, sebab organisasi kemasyarakatan pada waktu itu, hakikatnya hanya satu. Jadi sekali menjadi seorang ahli maka seterusnya dia akan menjadi seorang ahli. Seorang ahli di bidang peternakan ayam akan dianggap ahli dalam masalah perkawinan, kebatinan, perdagangan, ekonomi, kenakalan remaja dan lain sebagainya.[3]
“jika kalau sekarang kita melihat seorang professor psikiatri mencantumkan gelarnya waktu main ketoprak, maka gejala ini dapat dianggap sebagai sindrom tempo dulu kan? ”Tanya seorang peserta seminar.
“Tahu,… ” jawab si pembawa makalah, “habis contohnya professor psikiatri, sih, jadi membuka lorong kearah yang lain”(semua tertawa kecuali orang yang dari psikologi)
Jadi criteria kesamaan dan bukan perbedaan yang menjadi konsep dasar pada waktu dulu.Semua menyatu dalam satu kesatuan yang batas-batasnya kabur dan mengembang. Tidak terdapat jarak yang jelas antara objek yang satu dan objek yang lain. Antara ujud yang satu dengan ujud yang lain. Konsep dasar ini baru mengalami perubahan fundamental dengan dengan berkembangnya abad penalaran pada abad pertengahan ke-7. Sebelum Charles Darwin menyusun teori evolusinya kita menganggap semua makhluk adalah surapa yang diciptakan dalam waktu yang sama.
            Dengan berkembangnya abad penalaran maka konsep dasar berubah dari kesamaan menjadi perubahan.Mualilah terdapat perbedaan yang jelas antara berbagai pengetahuan, yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan kosekuensinya mengubah struktur kemasyarakatan. Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak berdasarkan apa yang diketahui, bagaimana cara mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan.
            Diferensiasi dalam bidang ilmu dengan cepat terjadi.Secara metafisika ilmu mulai dipisahkan dengan moral.Berdasarkan obyek yang ditelaah mulai dibedakan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social.Dari cabang ilmu yang satu sekarang ini diperkirakan berkembang lebih dari 650 ranting disiplin keilmuan.Perbedaan yang makin terperinci ini menimbulkan keahlian yang makin spesifik pula.
            Makin berkembangnya disiplin keilmuan itu bukan tidak menimbulkan masalah, sebab dalam kehidupan nyata seperti pembangunan pemukiman manusia, maka masalah yang dihadapi demikian banyak dan bersifat jelimet. Menghadapi seperti ini ada lagi orang yang ingin memutar jarum sejarah kembali dengan mengaburkan batas-batas otonomi masing-masing disiplin keilmuan, dengan dalih pendekatan inter-disipliner maka berbagai disiplin keilmuan dikaburkan seperti semboyan tiga musketir dari Alexander Dumas: “Tous pour un, un pour tous” (bahkan kapling moral mulai digabungkan kembali dengan kapling ilmu secara metafisik).[4]
2.      Pengetahuan
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita.Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan.Apa yang harus sekiranya kita lakukan apabila anak kita demam panas dan menderita kejang? Lagu nina bobok apa yang harus kita nyanyikan agar dia tertidur lelap? Sekiranya insan yang sangat kita cintai itu kemusdian meninggalkan kita maka kemana kita harus berpaling dalam kemelut kesedihan?
            Setiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yang diajukan. Oleh sebab itu agar kita dapat memanfaatkan segenap pengetahuan kita secara maksimal maka harus kita ketahui jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan oleh suatu pengetahuan tertentu. Atau dengan kata lain, perlu kita ketahui kepada pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus kita ajukan.
            Sekiranya kita bertanya”apakah yang akan terjadi sesudah manusia mati?” maka pertanyaan itu tidak dapat di ajukan kepada ilmu malainka kepada agama, sebab secara ontologism ilmu membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia, sedangkan agama memasuki pula daerah penjajahan yang bersifat transcendental yang berada di luar pengetahuan kita. Ilmu tidak dapat menjawab pertanyaan itu sebab ilmu dalam tubuh pengetahuan tersebut.Atau jika kita memakai analogi computer maka computer ilmu memang tidak diprogramkan untuk itu.
            Jadi pada hakikatnya kita mengharapkan jawaban yang benar, dan bukannya sekedar jawaban yang bersifat sembarang saja. Lalu timbullah masalah, bagaimana cara kita menyusun pengetahuan yang benar? Masalah inilah yang terdapat dalam filsafat tersebut epistimologi, dan lndasan epistimologi ilmu disebut motode ilmiah. Dengan kata lain, metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengatahuan yang benar. Lalu apakah yang disebut benar sedangkan dalam khasanah filsafat terdapat beberapa teori kebenaran?
            Setiap jenis pengetahuan mempungai ciri-ciri tersendiri mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan itu disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan, jadi ontologi ilmu terkait dengan epistimologi ilmu dan epistimologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya.
            Ilmu mencoba menafsirkan gejala alam dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian. Metode ekspresi dikembangkan oleh sarjana-sarjana muslim pada abad keemasan islam, ketika ilmu pengetahuan lainnya mencapai kulminasi antara abad IX dan XII M. Perkembangan metode eksperiman yang berasal dari Timur yang mempunyai pengaruh penting terhadap era berpikir manusia sebab dengan demikian maka dapat diuji berbagai penjelasan teoretis ataukah sesuai dengan kenyataan empiris ataukah tidak. Dengan demikian maka berkembanglah metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir deduktif dengan induktif.[5]
3.      Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan di sebut ilmu tercantum apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Metode menurut Senn, merupakan suatu perosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah sistematis.
            Proses kegiatan ilmiah, menurut Ritchie Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Tentu saja hal ini membawa kita kepada pertanyaan lain: mengapa manusia muali mengamati sesuatu? Kalau kita telaah lebih lanjut ternyata bahwa kita muali mengamati obyek tertentu kalau kita mempunyai perhatian tertentu terhadap obyek tersebut.Perhatian itu disebut dinamakan John Dewey sebagai suatu masalah atau kesukaran yang dirasakan apabila kita menemukan sesuatu dalam pengalaman kita yang menimbulkan pertanyaan.
            alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan dalam kegiatan ilmiah. Tahap-tahp kegiatan ilmiah antara lain:
1.      Perumusan masalah
2.      Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis
3.      Perumusan hipotesis
4.      Pengujian hipotesis
5.      Penarikan kesimpulan
C.     Ontologi: Hakikat apa yang dikaji
1.      Metafisika
Tafsiran Metafisika
Tafsiran yang pertama yang diberikan oleh manusia terhadap ala mini adalah bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat goib (supernatural) dan ujub-ujub ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supranatural ini: dimana manusia percaya bahwa roh-roh yang bersifat goib yang terdapat dalam benda-benda batu, pohon dan air terjun,. Animisme merupakan kepercayaan yang sangat tua umurnya dalam sejarah pengembangan kebudayaan manusia dan masih dipeluk oleh berbagai masyarakat dimuka bumi.
            Sebagai lawan dari supranaturalisme maka terdapat paham naturalisme yang menolak pendapat bahwa ujub-ujub yang bersifat supranatural ini. Materialisme, yang merupakan pajham yang berdasrkan neturalisme ini, bahwa gejala-gejala alam ditak disebabkan oleh pengaruh-pengaruh kekuatan yang bersifat goib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri, yang dapat dipelajari dengan demikian dapat kita ketahui.[6]
2.      Asumsi
Marilah kita asumsikan saja bahwa hukum yang mengantarkan berbagai kejadian itu memang ada, sebab tanpa asumsi ini maka pembicaraan kita selama ini akan sia-sia, tukas teoretikus filsafat ilmu. Hukum sisini diartikan sebagai suatu aturan main atau pula kejadian yang diakui oleh sebagian besar peserta, gejalanya berulang kali dapat diamati yang tiap kali memberi hasil yang sama, yang dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hukum itu, seperti kata Caca Cola, berlaku kapan saja dan di mana saja.
3.      Peluang
Daji berdasarkan teori-teori keilmuan saya tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian, tanya seorang awan kepada seorang ilmuwan. Ilmuwan itu menggelengkan kepalanya tidak, jawab ilmuwan itu sambil tersenyum apologetik, hanya kesimpulan yang probabilistik.
Jadi berdasarka meteorologi dan geofisika saya tidak pernah merasa pasti bahwa esok hari akan hujan atau tidak akan hujan, sambung orang awam itu, kian penasaran. Tidak, ilmuwan menjawab: tetap tersenyum, karena dia termasuk golongan orang yang tahu ditahunya dan orang yang tidak tahu ditidaktahunya, jdai tidak pernah groggy bila diserang: saya hanya bisa mengatakan, umpanya bahwa dengan probabilitas 0,8 esok tidak akan turun hujan.
Peluang 0,8 secara sederhana dapat diartikan bahwa probabilitas untuk turun hujan esok adalah 8 dari 10 (yang merasa kepastian atau sekiranya saya merasa pasti (100 persen) bahwa esok kalau akan turun hujan maka akan saya berika peluang 1.0 atau dengan perkataan lain yang lebih sederhana, peluang 0.8 mencirikan bahwa pada 10 kali ramalang tentang akan jatuh hujan, 8 kali memnag hujan itu turun, dan dua kali ramalan itu meleset).
4.      Asumsi  dalam ilmu
Ilmu sekedar merupaka pengetahuan yang mempunyai kegunaan yang dapat membantu kehidupan manusia secara pragmatis. Dengan demikian untuk tujuan membangun atas rumah, sekiranya kita asumsikan bahwa permukaan itu adalah bidang datar, maka secara pragmatis hal ini dapat dipertanggung jawabkan. Namun bagi asumsi ini jelas tidak dapat diterima sebab secara praktis bagi mereka permukaan kayu yang mereka hadapi bukanlah bidang datar melainkan permukaan yang bergelombang.
5.      Batas-batas Penjelajahan Ilmu
Apakah batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? Dimakah ilmu berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah yang mendai kriteria obyek ontologi ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan yang lainnya? Jawab dari pertanyaan itu sangatlah sederhana: ilmu memulai penjelajahannya pada pengetahuan manusia dan berhenti di batas pengetahuan manusia. Apakah ilmu mempelajari hal ihwal surga dan neraka? Jawabannya adalah tidak. Sebab surga dan neraka berada diluar jangkauan manusia. Apakah ilmu mepelajari sebab musabab kejadian manusia? Jawabannya adalah tidak, sebab kejadian itu di luar pengalaman manusia. Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup kita, maupun apa-apa yang terjadi setelah kematian kita, semua itu berada diluar penjelajahan ilmu.
            Ilmu tanpa bimbingn moral agama adalah buta, demikian kata Einstein, ruang penjelajahan ilmu kemudian menjadi “kapling-kapling” berbagai disiplin keilmuan.
Cabang-cabang ilmu
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu bekembang adri dua cabang utama: Filsafat Alam, Filsafat Moral.
Cabang utama ilmu-ilmu sosial ini kemudian mempunyai cabang-cabang lagi seperti umpamanya antropologi terpecah menjadi lima yakni arkeologi, antropologi fisik, linguistik, etnologi dan antropologo sosial.
D.  Sarana berpikir ilmiah
Kegiatan berpikir kita di lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah.Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah.Berpikir ilmiah merupakan berpikir dengan langkah-langkah metode ilmiah seperti perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literature, menarik kesimpulan.Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu atau fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.Semua langkah-langkah berpikir metode ilmiah tersebut harus didukung dengan alat/sarana yang baik sehingga diharapkan hasil dari berpikir ilmiah yang kita lakukan mendapat hasil yang baik.Menurut Jujun S.Suriasumantri berpikir merupakan kegiatan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar.Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi.
Sarana berpikir pada dasarnya merupakan alat membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh.Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk medapatkan pengetahuan yang memungkinkan bisa memecahkan msalah sehari-hari.edangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengehahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah sehari-hari.
Ditinjau dari pola berfikirnya, maka maka ilmu merupakan gabungan antara pola berfikir deduktif dan berfikir induktif, untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif .Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan.Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berfikir ini dengan baik pula.Salah satu langkah kearah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut.Untuk dapat melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistik.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa diantaranya :
1.      Bahasa
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir imiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan benar. Premis yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga.
Semua itu tidak terlepas dari fungsi bahasa itu sendiri sebagai sarana berpikir.
contoh: binatang mampu berkomunikasi dengan binatang lainnya namun hal ini terbatas selama obyek yang dikomunikasikan itu berada secara faktual pada waktu proses komunikasi itu dilakukan.
Beberapa kekurangan bahasa multifungsi di antaranya :
1)      Sarana komunikasi emotif
2)      Sarana komunikasi afektif
3)      Sarana komunikasi simbolik
2.      Matematika sebagai bahasa
matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan.Bahasa verbal  mempunyai beberapa kekurangan, untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa verbal, kita berpaling pada matematika. Dalam hal ini dikatakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat majemuk dan emosional dari bahasa verbal.
Contoh: menghitung “kecepatan jalan kaki seorang anak” kita lambangkan X, “jarak tempuh seorang anak” kita lambangkan Y, “waktu berjalan kaki seorang anak” kita lambangkan Z, maka kita dapat melambangkan hubungan tersebut sebagai Z=Y/X. Pernyataan Z=X/Y kiranya jelas tidak mempunyai konotasi emosional dan hanya mengemukakan informasi mengenai hubungan antara X, Y dan Z.
Dalam hal ini pernyataan matematika mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informatif dengan tidak menimbulkan konotasi yang tidak bersifat emosional.
a.       Sifat kuantitatif dari matematika
Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan control dari ilmu. ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eskak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat . matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif. perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperative bila kita menghendaki daya prediksi dan control yang lebih tepat dan cermat .
b.      matematika sarana berpikir deduktif
Berpikir adalah proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan.
c.       Beberapa aliran dalam filsafat matematika
Dari bagian terdahulu telah disebutkan dua pendapat tentang matematika yakni :
Ø  Immanuel Kant (1724-1804)
Yang berpendapat tentang matematika merupakan pengetahuan yang bersifat sintetik apriori dimana eksistensi matematika tergantung dari pancaindera serta dapat dari aliran yang disebut logistik yang berpendapat bahwa matematika merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris.
Ø  Gottlob Frege (1848-1925)
Yang menyatakan bahwa hukum bilangan (the law of number) dapat direduksikan kedalam proposisi-proposisi logika.
Ø  George Cantor (1845-1918)
Yang menyatakan bahwa lebih banyak bilangan nyata (real number) dibandingkan bilangan asli (natural number) ditolak oleh kaum intuisionis.
d.      Matematika dan peradaban
Matematika dapat dikatakan hamper sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Sekitar 3500 tahun S.M. bangsa Mesir kuno telah mempunyai simbol yang melambangkan angka-angka. Para pendeta mereka merupakan ahli matematika yang pertama, yang melakukan pengukuran pasang surutnya sungai Nil dan meramalkan timbulnya banjir, seperti apa yang sekarang kita lakukan di abad dua puluh di kota metropolitan. Bedanya adalah bahwa pengetahuan tentang matematika pada waktu itu dianggap keramat.
3.      Statistika
Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika, merupakan konsep baru yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani Kuno, Romawi dan bahkan Eropa dalam abad pertenghan.Teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang di kembangkan sarjana Muslim namun bukan dalam lingkup teori peluang.Begitu dasar-dasar peluang ini di rumuskan maka dengan cepat bidang telaahan berkembang.
Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu.Abraham Demoivre (1667-1754) mengembangkan teori galat atau kekeliruan (theory of error).Pada tahun 1757 Thomas Simpson menyimpulkan bahwa terdapat suatu distribusi frekuensi yang cukup banyak.
a.       Statistika dan Cara Berpikir Induktif
Ilmu secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya.Semua pernyataan ilmiah adalah bersifat faktual, dimana konsekuensinya dapat di uji baik dengan jalan mempergunakan pancaindera, maupun dengan mempergunakan alat-alat yang membantu pancaindera tersebut.
Penguji secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainya.
Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut.
b.      Karateristik Berpikir Induktif
Kesimpulan yang didapat dalam berpikir deduktif merupakan suatu hal yang pasti, dimana jika mempercayai premis-premis yang dipakai sebagai landasan penalarannya, maka kesimpulan penalaran tersebut juga dapat dipercayai sebenarnya sebagaimana mempercayai premis-premis terdahulu.
Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan untuk menarik kesimpulan secara induktif berdasarkan peluang tersebut.
Dasar dari teori statistika adalah teori peluang.Teori peluang merupakan cabang dari matematika sedangkan statistika sendiri merupakan disiplin tersendiri.Menurut bidang pengkajian statistika dapat dibedakan sebagai statistika teoritis dan statistika terapan.Statistika teori penarikan contoh, distribusi, penaksiran dan peluang.Statistika terapan merupakan penggunaan statistika teoritis yang disesuaikan dengan bidang tempat penerapannya.






















BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
1.      Dasar-dasr pengetahuan
a.       Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
Sebagai kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Adanya suatu pola pikir yang secara luas disebut logika.
2. Penalaran adalah sifat analitik dari proses berpikirnya.
b.      Logika
Logika merupakan cara berfikir dengan rasional atau masuk akal, ada dua macam logika: deduktif, induktif.
c.       sumber pengetahuan
sumber dari munculnya ilmu pengetahuan itu berasal dari pemikiran yang kemudian muncul ilmu pengetahuan.
d.       kriteria kebenaran
kriteria kebenaran itu relatif dari apa yang pengetahuan yang didapatkan dan pengalamannya.
II. Ontologi Hakikat apa yang dikaji
a.       Metafisika merupakan suatu pemikiran filsafat yang dapat mengetahui sesuatu yang ada di lain sesuatu tersebut.
b.      Asumsi
Asumsi suatu keadaan itu tergantung pada pola pikir dan cara menyikapi suatu keadaan yang terjadi.
c.       Peluang merupakan suatu yang bisa saja muncul dan bisa saja tidak muncul dalam suatu kondisi atau sesuatu yang lain.
d.      Beberapa asumsi dari ilmu
e.       Batas-batas penjelajahan ilmu
III. Epistimologi : cara mendapatka pengetahuan
a.       Jarum sejarah pengetahuan
b.      Pengetahuan
c.       Metode ilmiah
d.      Struktur pengetahuan ilmiah

IV. Sarana Berpikir Ilmiah
a.       Sarana berpikir ilmiah
b.      Bahasa
c.       Matematika
d.      Statistika




























Daftar Pustaka

Suriasumantri Jujun. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Muhadjir Noeng. 1998. Filsafat Ilmu Telaah sistematis fungsional komparatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.































[1] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan), hlm.39
[2] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan), hlm. 50
[3] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan), hlm. 101
[4] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm.103
[5] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm.116
[6] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan), hlm. 64

Tidak ada komentar:

Posting Komentar