epistimoloogi filsafat barat ke filsafat Islam
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Segala puji bagi Allah swt tuhan semesta alam yang telah memberikan
kita semua kenikmatan dan memberikan kami kelancaran dalam mengerjakan makalah
ini, pentingnya berpikir filsafat bagi kita untuk membangun serta mengembangkan
bahkan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua, kata membangun
sangat erat hubungannya dengan kemampuan meneliti yang dimiliki perangkat
pemikir suatu bangsa. Dari pengguna ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal
dari Negara lain kita sekarang harus berusaha menjadi pencipta ilmu pengetahuan
dan teknologi sehingga tidak saja kita hanya dapat menjual bahan mentah, tetapi
juga bahan jadi dan buah pikiran.
Filsafat sangatlah
penting untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kita, maka dari itu dalam
makalah kami membahas tentang dasar pengetahuan, epistimologi, ontologi, sarana berpikir ilmiah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa sajakah dasar pengetahuan filsafat Ilmu?
2.
Bagaimana epistimologi filsafat ilmu?
3.
Bagaimana ontologi filsafat ilmu?
4.
Bagaimana saran berpikir ilmiah?
C.
Tujuan
1.
Untuk memenuhi tugas kelompok makalah mata kuliah
Filsafat Ilmu dan Paradigma.
2.
Untuk mengetahui dasar pengetahuan Filsafat Ilmu.
3.
Untuk mengetahui epistimologi filsafat ilmu.
4.
Untuk mengetahui ontologi filsafat ilmu.
5.
Untuk mengetahui saran berpikir ilmiah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Dasar-dasar pengetahuan
1.
Penalaran
Menurut Andi Hakim Nasoetion, dalam sebuah ceramahnya di depan layar
televisi, sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau
jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya jangan punah, melainkan manusia
jawa. Usaha pelestarian ini dipimpim oleh Mentri PPLH (Pengawasan Pembangunan
dan Lingkungan Hidup) yang bukan bernama Email Salim melainkan seekor harimau
yang bergelar profesor. “Deangan cakarnya, dengan taringnya, dengan
kekuatannya,” demikian kira-kira ujar ilmuwan yang penuh humor ini,” harimau
adalh jelas buka tandingan manusia.[1]
Manusia adalah satu satunya makhluk yang mengembangkan
pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan,
namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). Pengetahuan
yang dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yaitu: pertama, manusia
mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikirna yang
melatar belakangi informasi tersebut. Kedua, yang dapat membantu menusai
mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap adalah kemampuan berpikir
menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.
Hakikat Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan
yang berupa pengetahuan. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan
pengetahuan yang benar. Apa yang disebut orang benar tapi menurut orang lain
tidak benar maka sebab itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan
pengetahuan yang itu pun juga berbeda-beda. Sebagai kegiatan berpikir maka
penalaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Adanya suatu pola pikir yang secara luas disebut logika.
2. Penalaran adalah sifat analitik dari proses berpikirnya.
Disamping itu juga terdapat bentuk lain dalam
usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan yakni wahyu. Ditinjau dari
hakikat usahanya, maka dalam rangka menemukan kebenaran kita dapat bedakan dua
jenis pengetahuan:
1. Pengetahuan yang didapatkan atas hasil usaha yang aktif dari manusia
untuk menemukan kebenaran yang, baik melalui penalaran ataupun kegiatan lain
seperti perasaan dan intuisi.
2. Pengetahuan yang didapat bukan berupa kesimpulan sebagai produk dari
usaha aktif manusia dalam menemukan kebenaran, melainkan berupa pengetahuan
yang ditawarkan atau diberikan, umpanya wahyu yang diberikan oleh Tuhan lewat
malaikat di berika kepada nabi-nabi.
2.
Logika
Alkisah, menurut cerita yang terdapat dalam
khasanah humor ilmiah, seorang peneliti ingin menemukan apa yang sebenarnya
membuat seseorang itu mabuk. Untuk itu dia melakukan suatu penelitian dengan
mencampur berbagai minuman keras. Mula-mula ia mencampur air dengan wiski luar
negri yang setelah ditegukkan maka dia pun terkapar mabuk. Setelah senyuman dia
mencampur air dengan TKW, wiski lokal yang diminum di pinggir jalan sambil
menghisap kretek, ternyata campuran ini pun menyebabkan ia mabuk. Akhirnya dia
mencampur air dengan tuak yang seperti kedua campuran terdahulu dan menyebabkan
dia mabuk. Bedasarkan penelitian ini maka dia menyimpulkan bahwa airlah yang
menyebabkan manusia mabuk, benar-benar masuk akal bukan, namun hal itu benar?
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang
membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilakn penalaran itu
mempunyai dasar kebanaran maka proses berpikir itu harus dilakukan suatu cara
tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalau
proses penarikan kesimpulan dilakukan menurut cara tertentu tersebut.cara
penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat
didefinisikan sebagai ”pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Ada dua cara
penarikan kesimpulan:
1. Logkia induktif
Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan
kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat
umum.
2. Logika Deduktif
Logika deduktif yang membantu kita dalmam menarik
kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat
individual(khusus).
3. Sumber Pengetahuan
De omnibus dubitandum! Segala sesuatu harus diragukan, desak
Descartes. Namun segala yang ada dalam hidup ini dimuali dengan meragukan
sesuatu, bahkan juga Hamlet si peragu, yang berseru kepada Ophelia.
Ragukan
bahwa bintang-bintang itu api
Ragukan
bahwa matahari itu bergerak
Ragukan
bahwa kebanaran itu dusta
Tapi
jangan raguka cintaku[2]
Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses
penalarannya mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggap
benar. Kenyataan ini membawa kita dalam kebuah pernyataan: bagaimanakah caranya
kita mendapatkan pengetahuan yang benar itu? Pada dasarnya terdapat dua cara
yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, yang pertama adalah
mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman.
Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme.
Sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangakan paham
yang disebut dengan empirisme.
Masalah utama yang timbl dari acara
berpikir ini adalah mengenai kriteria untuk mengetahui akan kebanaran dari
suatu ide yang menurut seseorang adalah jelas dan dapat dipercaya. Di samping
rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan
yanga lain. Yang penting untuk kita ketahui adalah intuisi dan wahyu.Intuisi
merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran
tertentu. Wahyu merupakan pengetahuan yang di sampaikan oleh Tuhan
kepada manusia.
4. Kriteria Kebenaran
1. Seorang anak kecil yang baru masuk sekolah,
setelah tiga hari berselang, mogok tidak mau belajar. Orang tuanya mencoba
membujuk dia dengan segala macam daya, dari iming-imingan gula-gula sampai
ancaman sapu lidi, semuanya sia-sia. Setelah didesak-desak akhirnya dia terus
terang, bahwa dia sudah kehilangan hasratnya untuk belajar, sebab ternyata ibu
gurunya adalah seorang pembohong.
Coba ceritakan bagaimana dia seorang pembohong,”pinta
orang tuanya sambil tersenyum”.
“Tiga hari yang lalu dia berkata bahwa 3 + 4 = 7. Dua hari
yang lalu ia berkata 5 + 2 = 7, kemaren dia berkata 6 + 1 = 7. Bukankah semua
tidak benar?”
Permasalahan yang sederhana ini membawa kita kepada apa
yang disebut teori kebenaran. Apakah persyaratannya agar suatu jalan pikiran
menghasilkan kesimpulan yang benar? Tidak semua manusia mempunyai persyaratan
yang sama terhadap apa yang dianggap benar, termasuk anak kecil tadi, yang
dengan pikiran kanak-kanaknya mempunyai kriteria kebenaran tersendiri. Bagi
kita tidak sukar untuk menerima kebenaran bahwa 3 + 4 = 7, 5 + 2 = 7, 6 + 1 =
7, sebsb secara deduktif dapat dibuktikan bahwa ketiga pernyataan tersebut
adalah benar. Mengapa hal ini kita sebut benar? Sebab pernyataan dan kesimpulan
yang ditariknya adalah knsisten dengan pernyataan dan kesimpulan terdahulu yang
telah dianggap benar.
Teori kebenaran yang didasarkan pada kriteria
tersebut diatas di sebut teori koherensi.
2. Paham lain adalah kebenaran yang berdasarkan
kepada teori korespondensi, dimana eksponen utamanya adalah Bertrand Russell
(1872-1970). Bagi penganut teori korespondensi maka suatu pernyataan adalah
benar jika materi pengetahuan yang di kandung pernyataan itu berkorespondensi
(berhubungan) dengan objek yang di tuju oleh pernyataan tersebut.
3. Teori pragmatis dicetuskan oleh Charles
S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang
berjudul “How to Make Our Ideas Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh
beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang
menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Bagi seorang
pragmatis kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan
tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.
B.
Epistimologi: cara mendapatkan pengetahuan yang benar
1. Jarum Sejarah Pengetahuan
Pernahkah anda mendengar tukang obat
menawarkan panacea (obat segala macam penyakit) di kaki lima yang
berkata, “untuk urat kaku, pegal linu, darah tinggi, sakit bengek, keputihan,
sukar tidur, lemah jantan,..... makanlah tablet ini tiga kali sehari, diguyur
dengan air minum, yang hamil dilarang makan?” Raja obat yang mampu mengobati
segala macam penyakit ini adalah warisan dari zaman dulu, di mana pada waktu
itu pembedaan antara ujud satu dengan ujud yang lain, belum dilakukan. Pada
masyarakat primitif, pembedaan antara berbagai organisasi kemasyarakatan belum
nampak, yang diakibatkan belum adanya pembagian pekerjaan. Seorang ketua suku umpamanya, bisa merangkap hakim, penghulu yang
menikahkan, panglima perang, guru besar atau tukang tenun.Sekali kita menenpati
status tertentu dalam jenjang kemasyarakatan maka status itu tetap, kemanapun
kita pergi, sebab organisasi kemasyarakatan pada waktu itu, hakikatnya hanya
satu. Jadi sekali menjadi seorang ahli maka seterusnya dia akan menjadi seorang
ahli. Seorang ahli di bidang peternakan ayam akan dianggap ahli dalam masalah
perkawinan, kebatinan, perdagangan, ekonomi, kenakalan remaja dan lain
sebagainya.[3]
“jika kalau sekarang kita melihat seorang professor psikiatri
mencantumkan gelarnya waktu main ketoprak, maka gejala ini dapat dianggap
sebagai sindrom tempo dulu kan? ”Tanya seorang peserta seminar.
“Tahu,… ” jawab si pembawa makalah, “habis contohnya professor
psikiatri, sih, jadi membuka lorong kearah yang lain”(semua tertawa kecuali
orang yang dari psikologi)
Jadi criteria kesamaan dan bukan perbedaan yang menjadi konsep
dasar pada waktu dulu.Semua menyatu dalam satu kesatuan yang batas-batasnya
kabur dan mengembang. Tidak terdapat jarak yang jelas antara objek yang satu
dan objek yang lain. Antara ujud yang satu dengan ujud yang lain. Konsep dasar
ini baru mengalami perubahan fundamental dengan dengan berkembangnya abad
penalaran pada abad pertengahan ke-7. Sebelum Charles Darwin menyusun teori
evolusinya kita menganggap semua makhluk adalah surapa yang diciptakan dalam
waktu yang sama.
Dengan
berkembangnya abad penalaran maka konsep dasar berubah dari kesamaan menjadi
perubahan.Mualilah terdapat perbedaan yang jelas antara berbagai pengetahuan,
yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan kosekuensinya mengubah
struktur kemasyarakatan. Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak
berdasarkan apa yang diketahui, bagaimana cara mengetahui dan untuk apa
pengetahuan itu dipergunakan.
Diferensiasi dalam
bidang ilmu dengan cepat terjadi.Secara metafisika ilmu mulai dipisahkan dengan
moral.Berdasarkan obyek yang ditelaah mulai dibedakan ilmu-ilmu alam dan
ilmu-ilmu social.Dari cabang ilmu yang satu sekarang ini diperkirakan
berkembang lebih dari 650 ranting disiplin keilmuan.Perbedaan yang makin terperinci
ini menimbulkan keahlian yang makin spesifik pula.
Makin
berkembangnya disiplin keilmuan itu bukan tidak menimbulkan masalah, sebab
dalam kehidupan nyata seperti pembangunan pemukiman manusia, maka masalah yang
dihadapi demikian banyak dan bersifat jelimet. Menghadapi seperti ini ada lagi
orang yang ingin memutar jarum sejarah kembali dengan mengaburkan batas-batas
otonomi masing-masing disiplin keilmuan, dengan dalih pendekatan inter-disipliner
maka berbagai disiplin keilmuan dikaburkan seperti semboyan tiga musketir dari
Alexander Dumas: “Tous pour un, un pour tous” (bahkan kapling moral mulai
digabungkan kembali dengan kapling ilmu secara metafisik).[4]
2.
Pengetahuan
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung
atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita.Sukar untuk dibayangkan
bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tak ada, sebab
pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam
kehidupan.Apa yang harus sekiranya kita lakukan apabila anak kita demam panas
dan menderita kejang? Lagu nina bobok apa yang harus kita nyanyikan agar dia
tertidur lelap? Sekiranya insan yang sangat kita cintai itu kemusdian
meninggalkan kita maka kemana kita harus berpaling dalam kemelut kesedihan?
Setiap jenis
pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yang diajukan.
Oleh sebab itu agar kita dapat memanfaatkan segenap pengetahuan kita secara
maksimal maka harus kita ketahui jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan
oleh suatu pengetahuan tertentu. Atau dengan kata lain, perlu kita ketahui
kepada pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus kita ajukan.
Sekiranya kita
bertanya”apakah yang akan terjadi sesudah manusia mati?” maka pertanyaan itu
tidak dapat di ajukan kepada ilmu malainka kepada agama, sebab secara
ontologism ilmu membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada dalam lingkup
pengalaman manusia, sedangkan agama memasuki pula daerah penjajahan yang
bersifat transcendental yang berada di luar pengetahuan kita. Ilmu tidak dapat
menjawab pertanyaan itu sebab ilmu dalam tubuh pengetahuan tersebut.Atau jika
kita memakai analogi computer maka computer ilmu memang tidak diprogramkan
untuk itu.
Jadi
pada hakikatnya kita mengharapkan jawaban yang benar, dan bukannya sekedar
jawaban yang bersifat sembarang saja. Lalu timbullah masalah, bagaimana cara
kita menyusun pengetahuan yang benar? Masalah inilah yang terdapat dalam
filsafat tersebut epistimologi, dan lndasan epistimologi ilmu disebut motode
ilmiah. Dengan kata lain, metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam
menyusun pengatahuan yang benar. Lalu apakah yang disebut benar sedangkan dalam
khasanah filsafat terdapat beberapa teori kebenaran?
Setiap
jenis pengetahuan mempungai ciri-ciri tersendiri mengenai apa (ontologi),
bagaimana (epistimologi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan itu disusun.
Ketiga landasan ini saling berkaitan, jadi ontologi ilmu terkait dengan
epistimologi ilmu dan epistimologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan
seterusnya.
Ilmu
mencoba menafsirkan gejala alam dengan mencoba mencari penjelasan tentang
berbagai kejadian. Metode ekspresi dikembangkan oleh sarjana-sarjana muslim
pada abad keemasan islam, ketika ilmu pengetahuan lainnya mencapai kulminasi
antara abad IX dan XII M. Perkembangan metode eksperiman yang berasal dari
Timur yang mempunyai pengaruh penting terhadap era berpikir manusia sebab
dengan demikian maka dapat diuji berbagai penjelasan teoretis ataukah sesuai
dengan kenyataan empiris ataukah tidak. Dengan demikian maka berkembanglah
metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir deduktif dengan induktif.[5]
3. Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu merupakan pengetahuan
yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu
sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi
syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu
pengetahuan di sebut ilmu tercantum apa yang dinamakan dengan metode ilmiah.
Metode menurut Senn, merupakan suatu perosedur
atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah sistematis.
Proses kegiatan
ilmiah, menurut Ritchie Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Tentu
saja hal ini membawa kita kepada pertanyaan lain: mengapa manusia muali
mengamati sesuatu? Kalau kita telaah lebih lanjut ternyata bahwa kita muali
mengamati obyek tertentu kalau kita mempunyai perhatian tertentu terhadap obyek
tersebut.Perhatian itu disebut dinamakan John Dewey sebagai suatu masalah atau
kesukaran yang dirasakan apabila kita menemukan sesuatu dalam pengalaman kita
yang menimbulkan pertanyaan.
alur berpikir yang
tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang
mencerminkan dalam kegiatan ilmiah. Tahap-tahp kegiatan ilmiah antara lain:
1.
Perumusan
masalah
2.
Penyusunan
kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis
3.
Perumusan hipotesis
4.
Pengujian
hipotesis
5.
Penarikan
kesimpulan
C.
Ontologi:
Hakikat apa yang dikaji
1.
Metafisika
Tafsiran Metafisika
Tafsiran yang pertama yang diberikan oleh manusia terhadap ala mini
adalah bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat goib (supernatural) dan ujub-ujub
ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.
Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supranatural ini: dimana
manusia percaya bahwa roh-roh yang bersifat goib yang terdapat dalam
benda-benda batu, pohon dan air terjun,. Animisme merupakan kepercayaan yang
sangat tua umurnya dalam sejarah pengembangan kebudayaan manusia dan masih
dipeluk oleh berbagai masyarakat dimuka bumi.
Sebagai
lawan dari supranaturalisme maka terdapat paham naturalisme yang menolak
pendapat bahwa ujub-ujub yang bersifat supranatural ini. Materialisme, yang
merupakan pajham yang berdasrkan neturalisme ini, bahwa gejala-gejala alam
ditak disebabkan oleh pengaruh-pengaruh kekuatan yang bersifat goib, melainkan
oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri, yang dapat dipelajari
dengan demikian dapat kita ketahui.[6]
2. Asumsi
Marilah kita asumsikan saja bahwa hukum yang
mengantarkan berbagai kejadian itu memang ada, sebab tanpa asumsi ini maka
pembicaraan kita selama ini akan sia-sia, tukas teoretikus filsafat ilmu. Hukum
sisini diartikan sebagai suatu aturan main atau pula kejadian yang diakui oleh
sebagian besar peserta, gejalanya berulang kali dapat diamati yang tiap kali
memberi hasil yang sama, yang dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hukum
itu, seperti kata Caca Cola, berlaku kapan saja dan di mana saja.
3. Peluang
Daji berdasarkan teori-teori keilmuan saya
tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian, tanya
seorang awan kepada seorang ilmuwan. Ilmuwan itu menggelengkan kepalanya tidak,
jawab ilmuwan itu sambil tersenyum apologetik, hanya kesimpulan yang
probabilistik.
Jadi berdasarka meteorologi dan geofisika saya
tidak pernah merasa pasti bahwa esok hari akan hujan atau tidak akan hujan,
sambung orang awam itu, kian penasaran. Tidak, ilmuwan menjawab: tetap
tersenyum, karena dia termasuk golongan orang yang tahu ditahunya dan orang
yang tidak tahu ditidaktahunya, jdai tidak pernah groggy bila diserang:
saya hanya bisa mengatakan, umpanya bahwa dengan probabilitas 0,8 esok tidak
akan turun hujan.
Peluang 0,8 secara sederhana dapat diartikan
bahwa probabilitas untuk turun hujan esok adalah 8 dari 10 (yang merasa
kepastian atau sekiranya saya merasa pasti (100 persen) bahwa esok kalau akan
turun hujan maka akan saya berika peluang 1.0 atau dengan perkataan lain yang
lebih sederhana, peluang 0.8 mencirikan bahwa pada 10 kali ramalang tentang
akan jatuh hujan, 8 kali memnag hujan itu turun, dan dua kali ramalan itu
meleset).
4. Asumsi
dalam ilmu
Ilmu sekedar merupaka pengetahuan yang
mempunyai kegunaan yang dapat membantu kehidupan manusia secara pragmatis.
Dengan demikian untuk tujuan membangun atas rumah, sekiranya kita asumsikan
bahwa permukaan itu adalah bidang datar, maka secara pragmatis hal ini dapat
dipertanggung jawabkan. Namun bagi asumsi ini jelas tidak dapat diterima sebab
secara praktis bagi mereka permukaan kayu yang mereka hadapi bukanlah bidang
datar melainkan permukaan yang bergelombang.
5. Batas-batas Penjelajahan Ilmu
Apakah batas yang merupakan lingkup
penjelajahan ilmu? Dimakah ilmu berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya
kepada pengetahuan lain? Apakah yang mendai kriteria obyek ontologi ilmu yang
membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan yang lainnya? Jawab dari
pertanyaan itu sangatlah sederhana: ilmu memulai penjelajahannya pada
pengetahuan manusia dan berhenti di batas pengetahuan manusia. Apakah ilmu
mempelajari hal ihwal surga dan neraka? Jawabannya adalah tidak. Sebab surga
dan neraka berada diluar jangkauan manusia. Apakah ilmu mepelajari sebab
musabab kejadian manusia? Jawabannya adalah tidak, sebab kejadian itu di luar
pengalaman manusia. Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup kita, maupun
apa-apa yang terjadi setelah kematian kita, semua itu berada diluar
penjelajahan ilmu.
Ilmu
tanpa bimbingn moral agama adalah buta, demikian kata Einstein, ruang
penjelajahan ilmu kemudian menjadi “kapling-kapling” berbagai disiplin
keilmuan.
Cabang-cabang ilmu
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu bekembang
adri dua cabang utama: Filsafat Alam, Filsafat Moral.
Cabang utama ilmu-ilmu sosial ini kemudian
mempunyai cabang-cabang lagi seperti umpamanya antropologi terpecah menjadi
lima yakni arkeologi, antropologi fisik, linguistik, etnologi dan antropologo
sosial.
D.
Sarana berpikir ilmiah
Kegiatan
berpikir kita di lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah.Berpikir
merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah.Berpikir ilmiah merupakan
berpikir dengan langkah-langkah metode ilmiah seperti perumusan masalah,
pengajuan hipotesis, pengkajian literature, menarik kesimpulan.Sarana berpikir
ilmiah merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu atau
fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.Semua
langkah-langkah berpikir metode ilmiah tersebut harus didukung dengan
alat/sarana yang baik sehingga diharapkan hasil dari berpikir ilmiah yang kita
lakukan mendapat hasil yang baik.Menurut Jujun S.Suriasumantri berpikir
merupakan kegiatan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar.Berpikir ilmiah
adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi.
Sarana
berpikir pada dasarnya merupakan alat membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai
langkah yang harus ditempuh.Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk
memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan
mempelajari ilmu dimaksudkan untuk medapatkan pengetahuan yang memungkinkan
bisa memecahkan msalah sehari-hari.edangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan
untuk mendapatkan pengehahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan masalah
sehari-hari.
Ditinjau
dari pola berfikirnya, maka maka ilmu merupakan gabungan antara pola berfikir
deduktif dan berfikir induktif, untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan
diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif .Penalaran ilmiah
mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya
merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang
diajukan.Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan
sarana berfikir ini dengan baik pula.Salah satu langkah kearah penguasaan itu
adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berfikir tersebut
dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut.Untuk dapat melakukan kegiatan
ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika,
matematika dan statistik.
Untuk
dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana
yang berupa diantaranya :
1. Bahasa
Bahasa
sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah
dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan
jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika
induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir imiah ini sangat
berkaitan erat dengan bahasa. Menggunakan bahasa yang baik dalam berpikir belum
tentu mendapatkan kesimpulan yang benar apalagi dengan bahasa yang tidak baik
dan benar. Premis yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga.
Semua
itu tidak terlepas dari fungsi bahasa itu sendiri sebagai sarana berpikir.
contoh:
binatang mampu berkomunikasi dengan binatang lainnya namun hal ini terbatas
selama obyek yang dikomunikasikan itu berada secara faktual pada waktu proses
komunikasi itu dilakukan.
Beberapa
kekurangan bahasa multifungsi di antaranya :
1) Sarana
komunikasi emotif
2) Sarana
komunikasi afektif
3) Sarana
komunikasi simbolik
2. Matematika
sebagai bahasa
matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian
makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang
matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna
diberikan.Bahasa
verbal mempunyai beberapa kekurangan,
untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa verbal, kita berpaling
pada matematika. Dalam hal ini dikatakan bahwa matematika adalah bahasa yang
berusaha untuk menghilangkan sifat majemuk dan emosional dari bahasa verbal.
Contoh: menghitung “kecepatan jalan
kaki seorang anak” kita lambangkan X, “jarak tempuh seorang anak” kita
lambangkan Y, “waktu berjalan kaki seorang anak” kita lambangkan Z, maka kita
dapat melambangkan hubungan tersebut sebagai Z=Y/X. Pernyataan Z=X/Y kiranya
jelas tidak mempunyai konotasi emosional dan hanya mengemukakan informasi
mengenai hubungan antara X, Y dan Z.
Dalam hal ini pernyataan matematika
mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informatif dengan tidak menimbulkan
konotasi yang tidak bersifat emosional.
a. Sifat kuantitatif dari matematika
Sifat kuantitatif dari
matematika ini meningkatkan daya prediktif dan control dari ilmu. ilmu
memberikan jawaban yang lebih bersifat eskak yang memungkinkan pemecahan
masalah secara lebih tepat dan cermat . matematika memungkinkan ilmu mengalami
perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif. perkembangan ini merupakan
suatu hal yang imperative bila kita menghendaki daya prediksi dan control yang
lebih tepat dan cermat .
b. matematika
sarana berpikir deduktif
Berpikir adalah proses
pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya
telah ditentukan.
c. Beberapa
aliran dalam filsafat matematika
Dari bagian terdahulu
telah disebutkan dua pendapat tentang matematika yakni :
Ø Immanuel
Kant (1724-1804)
Yang berpendapat
tentang matematika merupakan pengetahuan yang bersifat sintetik apriori dimana
eksistensi matematika tergantung dari pancaindera serta dapat dari aliran yang
disebut logistik yang berpendapat bahwa matematika merupakan cara
berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari
dunia empiris.
Ø Gottlob
Frege (1848-1925)
Yang menyatakan bahwa
hukum bilangan (the law of number) dapat direduksikan kedalam
proposisi-proposisi logika.
Ø George
Cantor (1845-1918)
Yang menyatakan bahwa
lebih banyak bilangan nyata (real number) dibandingkan bilangan asli (natural
number) ditolak oleh kaum intuisionis.
d. Matematika
dan peradaban
Matematika dapat
dikatakan hamper sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Sekitar 3500
tahun S.M. bangsa Mesir kuno telah mempunyai simbol yang melambangkan
angka-angka. Para pendeta mereka merupakan ahli matematika yang pertama, yang
melakukan pengukuran pasang surutnya sungai Nil dan meramalkan timbulnya
banjir, seperti apa yang sekarang kita lakukan di abad dua puluh di kota
metropolitan. Bedanya adalah bahwa pengetahuan tentang matematika pada waktu
itu dianggap keramat.
3. Statistika
Peluang
yang merupakan dasar dari teori statistika, merupakan konsep baru yang tidak
dikenal dalam pemikiran Yunani Kuno, Romawi dan bahkan Eropa dalam abad
pertenghan.Teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang
di kembangkan sarjana Muslim namun bukan dalam lingkup teori peluang.Begitu
dasar-dasar peluang ini di rumuskan maka dengan cepat bidang telaahan
berkembang.
Konsep
statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam
suatu populasi tertentu.Abraham Demoivre (1667-1754) mengembangkan teori galat
atau kekeliruan (theory of error).Pada tahun 1757 Thomas Simpson
menyimpulkan bahwa terdapat suatu distribusi frekuensi yang cukup banyak.
a. Statistika
dan Cara Berpikir Induktif
Ilmu secara sederhana
dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya.Semua
pernyataan ilmiah adalah bersifat faktual, dimana konsekuensinya dapat di uji
baik dengan jalan mempergunakan pancaindera, maupun dengan mempergunakan
alat-alat yang membantu pancaindera tersebut.
Penguji secara empiris
merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari
pengetahuan-pengetahuan lainya.
Statistika mampu
memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik
tersebut, yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni
makin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian
kesimpulan tersebut.
b. Karateristik
Berpikir Induktif
Kesimpulan yang didapat
dalam berpikir deduktif merupakan suatu hal yang pasti, dimana jika mempercayai
premis-premis yang dipakai sebagai landasan penalarannya, maka kesimpulan
penalaran tersebut juga dapat dipercayai sebenarnya sebagaimana mempercayai
premis-premis terdahulu.
Statistika merupakan
pengetahuan yang memungkinkan untuk menarik kesimpulan secara induktif
berdasarkan peluang tersebut.
Dasar dari teori
statistika adalah teori peluang.Teori peluang merupakan cabang dari matematika
sedangkan statistika sendiri merupakan disiplin tersendiri.Menurut bidang
pengkajian statistika dapat dibedakan sebagai statistika teoritis dan
statistika terapan.Statistika teori penarikan contoh, distribusi, penaksiran
dan peluang.Statistika terapan merupakan penggunaan statistika teoritis yang
disesuaikan dengan bidang tempat penerapannya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Dasar-dasr
pengetahuan
a.
Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik
sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
Sebagai kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Adanya suatu pola pikir yang secara luas disebut logika.
2. Penalaran adalah sifat analitik dari proses berpikirnya.
b.
Logika
Logika merupakan cara berfikir dengan rasional atau masuk
akal, ada dua macam logika: deduktif, induktif.
c.
sumber
pengetahuan
sumber dari munculnya ilmu pengetahuan itu berasal dari
pemikiran yang kemudian muncul ilmu pengetahuan.
d. kriteria kebenaran
kriteria kebenaran itu relatif dari apa yang
pengetahuan yang didapatkan dan pengalamannya.
II. Ontologi Hakikat apa yang dikaji
a. Metafisika merupakan suatu pemikiran filsafat
yang dapat mengetahui sesuatu yang ada di lain sesuatu tersebut.
b. Asumsi
Asumsi suatu keadaan itu tergantung pada pola pikir dan
cara menyikapi suatu keadaan yang terjadi.
c. Peluang merupakan suatu yang bisa saja muncul
dan bisa saja tidak muncul dalam suatu kondisi atau sesuatu yang lain.
d. Beberapa asumsi dari ilmu
e. Batas-batas penjelajahan ilmu
III. Epistimologi : cara mendapatka pengetahuan
a. Jarum sejarah pengetahuan
b. Pengetahuan
c. Metode ilmiah
d. Struktur pengetahuan ilmiah
IV. Sarana Berpikir Ilmiah
a. Sarana berpikir ilmiah
b. Bahasa
c. Matematika
d. Statistika
Daftar Pustaka
Suriasumantri Jujun. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Muhadjir Noeng. 1998. Filsafat Ilmu Telaah sistematis fungsional
komparatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
[1]
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan), hlm.39
[2]
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan), hlm. 50
[3]
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan), hlm. 101
[4]
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm.103
[5]
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm.116
[6]
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan), hlm. 64
Tidak ada komentar:
Posting Komentar